Review Film Trinil Horor: Fenomena Ketindihan

Fenomena ketindihan jadi salah satu topik dalam kembalinya Hanung Bramantyo ke genre horor. Waktu kecil, aku sering mengalami ketindihan. Mungkin karena dulu aku sering minum softdrink dan minuman manis lainnya, sehingga walau tubuh sudah tidur, pikiranku masih aktif karena banyak gula. Secara medis, ketindihan atau sleep paralysis adalah saat seseorang tidur tapi merasa sadar, tapi tidak bisa bergerak atau bicara, dan mulai mengalami ilusi yang menakutkan. Aku masih ingat jelas perasaan aneh saat ketindihan. Aku merasa udara di kamar berat, dan mataku terpaku ke gorden jendela, tidak bisa melihat ke tempat lain. Lalu aku dengar suara orang tua ngobrol di luar kamar, tapi suaranya aneh, seperti diputar lambat atau cepat. Karena itu aku tertarik nonton Trinil: Kembalikan Tubuhku.

Aku ingin melihat bagaimana pengalaman ketindihan diubah jadi cerita horor penuh. Bagaimana pengalaman yang pernah kualami divisualkan. Apalagi di barat, ketindihan sering dikaitkan dengan iblis wanita seperti Succubus atau Incubus yang duduk di dada orang yang hendak tidur. Kupikir Trinil bakal memberikan serangan horor psikologis. Tapi ternyata, Hanung membuat film ini dengan cara yang lebih langsung. Ketindihan hanya dianggap sebagai bentuk lain dari kesurupan. Meskipun ada latar politik 70an yang membayangi, Trinil yang diambil dari drama radio 80an ini hanya horor kejadian-kejadian, dengan eksposisi dan pengungkapan, tanpa benar-benar menggali karakter-karakternya.

Sinopsis Trinil: Kembalikan Tubuhku

Trinil adalah nama kecil Rara, perempuan keturunan pribumi dengan ayah Belanda pemilik perkebunan teh di Jawa Tengah tahun 1977. Meski panggilannya sama, Rara berbeda dengan Ibu kita Kartini. Rara pintar tapi cukup tegas. Saat dia dan suaminya kembali ke rumah besar di tengah perkebunan setelah bulan madu, Rara yang tidak sadar mengalami ketindihan setiap malam, sering memarahi orang yang coba membantu.

Lahan perkebunan mereka sedang diganggu oleh sosok hantu kepala perempuan, yang diduga penyebab banyak pekerja mati secara misterius. Ada yang gantung diri atau tercekik di tempat tidur. Suami Rara, Sutan, mengundang teman yang bisa mengusir hantu ke rumah mereka. Namun, Rara sempat bertengkar dengan Yusof, dukun Melayu, karena tidak setuju dengan cara Yusof yang ingin menyelidiki asal si hantu. Rara ingin hantu itu segera diusir sebelum kejadian buruk di perkebunan mereka tersebar ke publik.

Latar Belakang Trinil: Kembalikan Tubuhku

Dua film horor Hanung sebelumnya, Legenda Sundel Bolong (2007) dan Lentera Merah (2006), dibuat dengan latar sejarah yang kuat. Keduanya terkait dengan peristiwa politik tahun 1965. Di film horor terbarunya ini, Hanung juga memakai latar sejarah. Cerita berlangsung di era 70-an saat Indonesia mengadakan Pemilu dengan tiga partai untuk pertama kali. Soeharto akan menjabat lagi, situasi politik memanas, dan banyak pembunuhan terjadi terutama di kalangan ulama. Namun, seperti harapanku soal bahasan ketindihan, harapanku soal latar sejarah ini juga tidak terpenuhi dengan baik.

Selain dari informasi headline koran sebagai pengantar, latar belakang itu tidak benar-benar terasa dalam cerita. Mungkin karena aku juga kurang paham tentang kejadian politiknya. Asumsi terbaikku adalah masalah rumah tangga atau keluarga yang dialami tokoh, kejadian menakutkan yang mereka alami seperti tebas kepala dan tidur malam dengan ketakutan, menggambarkan horor dari kejadian politik itu. Aku kurang yakin, mungkin kalian yang lebih paham politik bisa berbagi di kolom komentar tentang bagaimana latar politik itu sebenarnya masuk ke dalam cerita film ini.

Pemeran Trinil: Kembalikan Tubuhku

Daftar Pemeran Utama

  • Carmela van der Kruk (sebagai Rara)
  • Rangga Nattra (sebagai Sutan)
  • Fattah Amin (sebagai Yusof)
  • Wulan Guritno (sebagai Ayu)
  • Shalom Razade (sebagai Ayu muda)
  • Alexander Wlan
  • Willem Bevers
  • Elly D Luthan
  • Gendhis Maharani

Tema dan Makna

Tema Utama

  • Keserakahan dan Harta: Konflik utama dipicu oleh perebutan dan penguasaan harta berupa perkebunan teh yang luas.
  • Trauma dan Dendam Masa Lalu: Teror hantu kepala tanpa badan merupakan manifestasi dosa, pembunuhan keji, dan mutilasi di masa lalu yang belum diselesaikan.
  • Dinamika Hubungan Suami Istri: Hubungan Rara dan Sutan diuji ketika mereka harus menghadapi teror gaib yang awalnya tidak mereka percayai bersama.

Makna Mendalam

  • Hutang Dosa yang Harus Dibayar: Pesan moral bahwa kejahatan dan pembunuhan demi ambisi pribadi tidak akan pernah hilang begitu saja, melainkan akan kembali menuntut pertanggungjawaban.
  • Masa Lalu yang Menghantui Generasi Berikutnya: Tokoh Rara ikut menderita dan terseret dalam teror akibat perbuatan kelam orang tua serta leluhurnya di perkebunan teh.
  • Akar Budaya dan Kepercayaan Lokal: Mengembalikan esensi cerita rakyat Nusantara dan sandiwara radio lama ke dalam medium sinema modern agar nilai-nilai lokal tetap hidup.

Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan Film Trinil

  • Atmosfer Awal yang Kuat: Setengah bagian awal film sukses membangun rasa penasaran dan suasana seram yang efektif.
  • Sinematografi Menarik: Sutradara Hanung Bramantyo piawai menghadirkan nuansa era jadul lewat detail visual dan tata rias.
  • Akting Memukau: Performa para pemeran utama dinilai cukup kuat dan totalitas dalam membawakan karakter masing-masing.

Kekurangan Film Trinil

  • CGI Kurang Efektif: Visual efek untuk hantu kepala atau elemen mistis tertentu terkadang terlihat kurang mulus sehingga mengurangi rasa ngeri.
  • Alur Akhir Ambruk: Bagian tengah hingga menjelang akhir cerita dinilai melompat-lompat dan membingungkan.
  • Eksekusi Adegan Klimaks: Beberapa adegan ketakutan atau penyelesaian konflik terasa kurang memuaskan dan antiklimaks.

Kesimpulan

Film Trinil: Kembalikan Tubuhku yang akan dirilis awal tahun 2024 sangat layak ditonton, terutama bagi penggemar horor lokal yang suka suasana retro tahun 1970-an. Film ini juga menghadirkan adaptasi menarik dari sandiwara radio klasik dan efek praktis unik, seperti hantu dengan kepala melayang, yang pasti menarik perhatian. Namun, alur cerita dan drama dalam film ini mendapat ulasan beragam, jadi pengalaman menontonnya bisa berbeda bagi setiap orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *