Para Perasuk Raih Standing Ovation di Sundance 2026: Kebanggaan Sinema Indonesia

FILM Para Perasuk (Levitating), karya terbaru Wregas Bhanuteja yang diproduksi oleh Rekata Studio, meraih standing ovation dari penonton setelah penayangan perdananya (world premiere) di Sundance Film Festival 2026. Debut film ini pada 24 Januari 2026 di Amerika Serikat menandai awal perjalanan Para Perasuk yang segera akan tayang di bioskop Indonesia.

Film yang dibintangi Angga Yunanda, Maudy Ayunda, Bryan Domani, Chicco Kurniawan, dan superstar internasional Anggun ini juga bersaing dalam program World Cinema Dramatic Competition Sundance 2026. Para Perasuk menjadi film Indonesia pertama yang terpilih di program tersebut setelah 13 tahun.

Sinopsis Para Perasuk 2026

Film Para Perasuk mengisahkan Bayu, pemuda berusia 20 tahun yang bercita-cita menjadi seorang perasuk. Di desanya, ada tradisi unik di mana masyarakat menikmati saat seseorang dirasuki roh dalam pesta bernama sambetan. Bagi mereka, kerasukan bukanlah hal yang menakutkan, melainkan hiburan sekaligus pengalaman spiritual yang mendalam. Di balik kemeriahan ritual tersebut, desa mereka menghadapi ancaman serius dari rencana pembangunan hotel megah yang mengincar mata air utama.

Proyek komersial ini mengancam kedaulatan warga karena berpotensi mengeringkan sawah-sawah yang telah menjadi sumber kehidupan masyarakat secara turun-temurun. Bayu pun bertekad menjadi Perasuk utama yang akan memimpin pesta besar-besaran untuk mengumpulkan dana demi menebus kembali mata air tersebut. Namun, di tengah perjalanan, Bayu menyadari ambisi saja tak cukup menjadi Perasuk sejati apalagi menyelamatkan desanya yang sangat ia cintai.

Latar Belakang Para Perasuk 2026

Film ini berlatar di desa fiktif bernama Latas, sebuah desa kecil pinggiran kota yang memiliki tradisi turun-temurun “pesta kerasukan”. Ritual ini digambarkan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari dan hiburan warga, bukan sekadar horor yang mengerikan. Wregas Bhanuteja terinspirasi dari koleksi cerita hantu milik adiknya. Meski bertema supranatural, film ini menyorot sisi manusiawi dan budaya klenik Indonesia yang masih hidup, menurut Menbud Fadli Zon.

Pemeran Para Perasuk 2026

  • Anggun Cipta sebagai Guru Asri
  • Angga Yunanda sebagai Bayu
  • Maudy Ayunda sebagai Laksmi
  • Chicco Kurniawan sebagai Pawit
  • Bryan Domani sebagai Ananto
  • Indra Birowo sebagai Bapak Bayu.
  • Ganindra Bimo sebagai Fahri
  • Cinta Laura
  • Aryudha Fasha sebagai Bang Yoga
  • Ivonne Dahler
  • Ocha Putri sebagai Sepupu Bayu

Tema dan Makna Para Perasuk 2026

Tema Utama: Luka Batin, Ambisi, dan Tradisi 

  • Metafora Kerasukan: Film ini menjadikan kerasukan sebagai simbol untuk menggambarkan pergolakan batin, luka emosional, dan obsesi manusia yang terpendam.
  • Tradisi “Pesta Sambetan”: Cerita berpusat pada tradisi unik dimana warga melakukan “pesta kerasukan”, yang menjadi ruang untuk melepaskan beban emosi.
  • Obsesi dan Drama: Berbeda dengan horor yang bertujuan menakuti, film ini berfokus pada drama obsesi manusia yang mendalam.

Makna Film Para Perasuk

  • Penyembuhan Emosional: Kerasukan dalam film ini diartikan sebagai usaha untuk menyalurkan emosi yang sulit diungkapkan, sebagai bentuk pelepasan atau katarsis.
  • Refleksi Diri: Film ini mengajak penonton memahami trauma dan keinginan terpendam yang memengaruhi perilaku manusia.
  • Unsur Budaya: Film ini mengangkat narasi budaya lokal Indonesia (desa dan tradisi) ke panggung internasional

Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan:

  • Premis Unik & Out of the Box: Mengangkat tema living culture (tradisi kerasukan) yang jarang dieksplorasi, bukan horor konvensional.
  • Kualitas Artistik Tinggi: Mendapat standing ovation di Sundance Film Festival 2026, menandakan visual dan penyutradaraan yang memukau.
  • Akting Kuat: Dibintangi oleh Angga Yunanda dan Maudy Ayunda yang menjanjikan performa intens.
  • Pengembangan Budaya Lokal: Berhasil mengemas kisah klenik/budaya nusantara menjadi sinema modern.

Kekurangan:

  • Tema Terlalu Niche/Eksploratif: Premis yang tidak biasa mungkin kurang bisa dinikmati penonton arus utama yang mengharapkan horor “jump scare”.
  • Potensi Lambat (Slow Burn): Gaya penyutradaraan biasanya fokus pada pendalaman karakter dan atmosfer, yang mungkin terasa lambat bagi sebagian penonton.
  • Kekhawatiran Sensitivitas Budaya: Pengangkatan tradisi kerasukan sebagai hiburan berpotensi memicu perdebatan mengenai eksploitasi tradisi lokal.

Kesimpulan

PARA PERASUK (2026) karya Wregas Bhanuteja sangat layak untuk ditonton, terutama bagi penikmat drama dengan kedalaman makna psikologis dan sosial. Film ini bukan sekadar horor konvensional, melainkan sebuah kisah coming-of-age yang emosional dengan pendekatan visual yang magis. Mengangkat cerita unik tentang ritual kerasukan sebagai harapan di tengah ancaman modernisasi, film ini menyajikan sudut pandang budaya yang jarang terlihat di layar lebar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *