Review Film Dilan 1990: Nostalgia Masa Remaja yang Menggugah

Pengantar: Mengulas Kembali Fenomena Dilan 1990

Film Dilan 1990 yang dirilis pada tahun 2018 menjadi salah satu fenomena besar dalam industri perfilman Indonesia. Diadaptasi dari novel laris karya Pidi Baiq, film ini menyuguhkan kisah cinta remaja yang manis dan menyentuh hati, sekaligus membawa suasana nostalgia yang kuat bagi generasi tahun 90-an. Dengan latar belakang Kota Bandung tahun 1990, cerita ini mampu menghidupkan kembali memori kolektif tentang masa muda dengan segala romantisme, tantangan, dan dinamika sosial pada era tersebut.

Dibintangi oleh Iqbaal Ramadhan sebagai Dilan dan Vanesha Prescilla sebagai Milea, film ini menggambarkan interaksi yang sederhana namun penuh makna antara dua karakter utama. Kehadiran Dilan sebagai sosok pria muda yang karismatik, humoris, dan penuh perhatian memberikan daya tarik tersendiri bagi penonton, terutama para remaja. Di sisi lain, karakter Milea menjembatani penonton untuk menyelami pergulatan emosi remaja yang sering kali terjadi di masa SMA.

Hal yang membuat Dilan 1990 menarik adalah caranya mengangkat tema cinta pertama dalam balutan budaya tahun 90-an. Detail-detail seperti radio transistor, seragam putih abu-abu, hingga surat cinta yang ditulis tangan, menghadirkan sentuhan realisme yang kuat.

Popularitas Dilan 1990 juga didukung oleh dialog-dialog ikoniknya. Kalimat seperti “Jangan rindu, berat. Biar aku saja” menjadi viral dan berhasil masuk ke dalam kultur pop Indonesia. Dialog-dialog ini tidak hanya menghadirkan romantisme tetapi juga menggambarkan kekhasan gaya bertutur Dilan yang unik.

Novel ini sukses merebut perhatian pembaca muda di Indonesia dengan alur cerita yang sederhana namun penuh emosi. Oleh karena itu, keberhasilan novelnya mendorong keputusan untuk membawa kisah ini ke layar lebar.

Adaptasi novel menjadi film juga melibatkan sang penulis, Pidi Baiq, dalam proses kreatif, termasuk pengawasan terhadap dialog dan pengembangan karakter. Selain itu, keterlibatannya juga menjamin akurasi alur cerita yang sesuai dengan ekspektasi para pembaca setia.

Film ini diperkuat oleh kombinasi aktor muda berbakat, seperti Iqbaal Ramadhan yang memerankan Dilan, serta Vanesha Prescilla sebagai Milea. Pemilihan aktor yang tepat menjadi aspek krusial dalam menghidupkan chemistry kedua tokoh utama yang menjadi inti cerita.

Distribusi film ini berperan besar dalam memperkenalkan Dilan 1990 ke khalayak yang lebih luas. Dengan dukungan rumah produksi Max Pictures, film ini berhasil menjangkau berbagai kota di Indonesia melalui jaringan bioskop besar.

Alur Cerita: Kisah Cinta Remaja yang Mengharukan

Film Dilan 1990 mengisahkan perjalanan cinta remaja yang penuh emosi antara Dilan, seorang siswa SMA yang terkenal karismatik dan unik, dengan Milea, gadis pindahan dari Jakarta yang memiliki sifat lembut namun tegas. Berlatar belakang tahun 1990 di Kota Bandung, cerita ini membawa penonton pada nostalgia masa SMA dengan segala romantisme, konflik, serta dinamika yang melekat pada masa remaja.

Sejak awal pertemuan mereka, Dilan menunjukkan sikap yang tidak biasa dalam mendekati Milea. Alih-alih menggunakan kata-kata romantis umum, Dilan sering melontarkan kalimat-kalimat unik yang tidak hanya menggugah perhatian tetapi juga membangun kesan mendalam bagi Milea. Kekuatan karakter Dilan yang penuh percaya diri dan cara pendekatannya yang otentik menjadi salah satu daya tarik utama yang membuat kisah ini terasa berbeda.

Mengembangkan hubungan mereka, film menghadirkan momen-momen kecil yang sarat makna, seperti upaya Dilan mengantar buku untuk Milea atau perlakuannya yang protektif terhadap Milea di tengah-tengah konflik sosial di sekolah. Adegan demi adegan memperlihatkan bagaimana dua karakter ini saling memahami, meski perbedaan kepribadian sering kali menjadi tantangan tersendiri.

Konflik dalam cerita tidak hanya datang dari hubungan Dilan dan Milea, tetapi juga dari interaksi mereka dengan teman-teman, keluarga, serta tekanan sosial di lingkungan sekolah. Perjuangan Milea untuk memahami kompleksitas sifat Dilan, dan bagaimana kedua tokoh mencoba menjaga rasa cinta di tengah berbagai rintangan menjadi inti emosional yang kuat dari film ini.

Dengan alur yang penuh dengan kesederhanaan namun kaya emosional, Dilan 1990 berhasil menggambarkan betapa indah dan rumitnya cinta remaja. Setiap adegan mencerminkan kepolosan dan kedewasaan yang mulai tumbuh dalam hubungan mereka. Kisah ini membawa penonton kembali merasakan hangatnya cinta pertama dan kebingungan yang sering menyertainya.

Karakter Utama: Dilan dan Milea sebagai Ikon Generasi

Dalam film Dilan 1990, Dilan dan Milea tidak hanya menjadi tokoh sentral, tetapi juga mencerminkan realitas emosional generasi muda pada era 1990-an. Karakter ini dikembangkan secara mendalam, menciptakan daya tarik kuat sekaligus menjadi representasi budaya remaja Indonesia di masa lalu.

Dilan, yang diperankan oleh Iqbaal Ramadhan, digambarkan sebagai sosok anak muda yang cerdas, humoris, dan sedikit “nakal”. Kepemimpinannya sebagai anggota geng motor tidak disajikan dalam konotasi negatif sepenuhnya, melainkan memberikan kesan keberanian yang khas dari remaja laki-laki pada masanya. Karakter ini menjadi unik karena Dilan tidak takut untuk menunjukkan sisi romantisnya dengan cara yang tidak biasa. Gombalan kreatifnya kepada Milea sering kali ikonik dan menjadi bahan perbincangan, menghidupkan suasana cerita dan memberikan warna dalam romansa mereka.

Di sisi lain, Milea, yang diperankan oleh Vanesha Prescilla, adalah representasi generasi putri remaja era 90-an. Milea ditampilkan sebagai pribadi yang manis, anggun, namun tegas dalam keputusannya. Kepindahannya dari Jakarta ke Bandung menjadi latar belakang penting bagi cerita, mencerminkan tantangan remaja dalam menghadapi lingkungan baru dan penyesuaian sosial. Hubungannya dengan Dilan memperlihatkan kompleksitas emosi remaja, mulai dari rasa penasaran, kebahagiaan sederhana, hingga konflik pribadi.

Keduanya berdiri sebagai ikon generasi karena berbagai aspek dalam kepribadian mereka mampu mewakili dinamika hubungan remaja yang mendalam dan autentik. Dialog-dialog yang ditulis untuk Dilan dan Milea menjadi cerminan cara berbicara remaja kala itu, sehingga film ini berhasil menghadirkan nostalgia yang terasa nyata. Kombinasi emosional yang menyentuh dan alami dari kedua karakter ini mampu menempatkan mereka sebagai simbol cinta muda dalam budaya populer Indonesia.

Aktor dan Akting: Penampilan Maksimal dari Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescilla

Film Dilan 1990 menampilkan Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescilla sebagai pemeran utama, yang masing-masing memerankan Dilan dan Milea. Penampilan mereka menjadi sorotan utama, mengingat karakter ini memiliki tempat spesial di hati para penggemar novel karya Pidi Baiq. Keduanya berhasil membangun dinamika yang tidak hanya meyakinkan, tetapi juga berhasil membawa penonton masuk ke dalam dunia remaja Bandung tahun 1990-an.

Iqbaal Ramadhan menampilkan karakter Dilan dengan kepercayaan diri dan pesona yang khas. Melalui dialog-dialog romantis dan penuh humor, Iqbaal memberikan nyawa pada karakter Dilan yang dikenal nakal, cerdik, namun penuh kasih sayang. Gestur tubuh, intonasi suara, dan ekspresi wajahnya mendukung totalitas perannya, memperkuat kesan “bad boy” yang menggemaskan tetapi tetap karismatik dan berprinsip.

Sementara itu, Vanesha Prescilla berhasil memerankan Milea dengan kesederhanaan dan kehangatan yang alami. Ia menciptakan sosok Milea yang relatable bagi para remaja perempuan. Vanesha mampu mengekspresikan berbagai emosi secara halus namun terasa nyata, mulai dari bahagia, cemburu, hingga kebingungan dalam menghadapi cinta pertama. Reaksinya terhadap berbagai interaksi dengan Dilan juga tampak natural, mencerminkan seorang remaja yang ingin memahami makna cinta dan kebebasan.

Sinergi yang terbangun di antara Iqbaal dan Vanesha menjadi kunci keberhasilan film ini. Chemistry mereka terlihat sangat kuat, baik dalam adegan manis penuh tawa maupun saat konflik emosional muncul. Hubungan yang dibangun di antara keduanya terasa otentik, seolah-olah mereka benar-benar hidup dalam cerita tersebut.

Akting mereka tidak hanya memikat penonton tetapi juga menunjukkan kemampuan mereka sebagai aktor muda berbakat. Dengan kombinasi antara dedikasi dan penghayatan, Iqbaal dan Vanesha membawa karakter Dilan dan Milea keluar dari halaman buku dan menjadikannya tokoh yang hidup di layar lebar. Keberhasilan ini menjadi alasan utama mengapa Dilan 1990 mendapatkan tempat istimewa di hati banyak orang.

Dialog dan Romantisme: Menghidupkan Nostalgia Masa Remaja

Film Dilan 1990 berhasil menyajikan dialog-dialog yang penuh makna dan menyentuh hati, menciptakan atmosfer yang sangat dekat dengan pengalaman masa remaja. Dialog yang sebagian besar diambil langsung dari versi novelnya memancarkan kesan orisinalitas dan kejujuran, seolah membawa penonton kembali ke era 90-an dengan gaya bahasa yang hangat dan sederhana. Kutipan-kutipan populer seperti, “Jangan rindu, berat. Kamu nggak akan kuat. Biar aku saja.” menjadi sorotan utama sekaligus ikon yang lekat di ingatan penonton. Pilihan kalimat ini sangat efektif dalam menghidupkan karakter Dilan sebagai sosok yang romantis namun tetap realistis.

Tidak hanya soal dialog, elemen romantisme dalam cerita juga dikemas dengan cara yang natural dan relevan. Hubungan antara Dilan dan Milea tidak dibuat terlalu berlebihan atau klise, melainkan dibangun secara perlahan dengan momen-momen kecil yang terasa autentik. Adegan-adegan seperti saat Dilan memberikan buku tulis kepada Milea dengan pesan manis di dalamnya, atau saat mereka berbagi waktu di bawah rindangnya pohon, menggambarkan bagaimana romantisme remaja di masa itu seringkali terasa sederhana namun begitu menggugah.

Kekuatan dari film ini terletak pada kemampuannya menghadirkan nostalgia. Penonton yang tumbuh dewasa pada era ’90-an akan menemukan penggambaran yang akurat tentang kehidupan remaja pada masa itu.

Penggunaan kata-kata puitis dan cinta yang tulus, tanpa dipaksa atau dibuat-buat, menambah kedalaman karakter, meningkatkan emosi, dan membawa dimensi baru pada dinamika Dilan dan Milea. Hal ini membuat chemistry antara kedua tokoh utama menjadi inti emosional dari cerita. ав

Setting Waktu dan Tempat: Nuansa 90-an yang Membawa Penonton ke Masa Lalu

Film Dilan 1990 berhasil membuat penonton tenggelam dalam nostalgia lewat penggambaran yang autentik dan penuh perhatian terhadap detail. Berlatar Bandung pada tahun 1990, estetika visual film ini memanfaatkan elemen-elemen khas dekade tersebut untuk menciptakan atmosfir yang membawa penonton kembali ke masa lalu. Pilihan lokasi seperti sekolah, jalanan kota, hingga rumah-rumah berarsitektur klasik menjadi representasi akurat yang menghidupkan suasana tahun 1990-an.

Hal yang membuat setting waktu dan tempat dalam Dilan 1990 begitu efektif adalah kepekaan terhadap detail kecil. Misalnya, properti yang digunakan dalam film ini—telepon rumah berputar, motor tua, poster artis tahun 90-an—mencerminkan gaya hidup masyarakat pada saat itu. Kendaraan seperti Honda CB yang dikendarai Dilan juga menjadi simbol ikonik dari era tersebut, ditambah dengan pilihan kostum sekolah putih abu-abu yang sederhana namun relevan. Penonton yang pernah hidup di masa itu mungkin akan langsung mengenali dan mengapresiasi elemen-elemen tersebut.

Selain itu, sinematografi turut mendukung nuansa nostalgia melalui penggunaan palet warna yang hangat dan pencahayaan lembut. Setiap sudut kota Bandung digambarkan dengan sentuhan romantis, memperkuat emosi yang ingin disampaikan cerita. Keseluruhan ruang visual di dalam film, dari jembatan hingga taman, membangun atmosfer yang terasa dekat sekaligus jauh—dekat bagi mereka yang memiliki kenangan serupa, dan jauh bagi generasi yang hanya mendengar cerita tentang masa-masa tersebut.

Penggunaan soundtrack juga berperan penting dalam memperkuat nuansa waktu. Lagu-lagu yang dipilih menampilkan gaya pop tahun 90-an, membangkitkan rasa familiar bagi penonton yang pernah hidup di era itu. Dengan penggambaran waktu dan tempat yang sangat detil, film ini berhasil menghadirkan pengalaman yang imersif dan menggugah perasaan nostalgia.

Musik dan Soundtrack: Elemen yang Menambah Kesempurnaan Cerita

Dalam film Dilan 1990, musik dan soundtrack memiliki peranan penting sebagai penyokong cerita yang mampu menggugah emosi penonton. Pemilihan musik yang tepat menjadi salah satu kunci keberhasilan film ini dalam menciptakan atmosfer era 1990-an yang kental. Dengan melibatkan elemen-elemen musik dari periode tersebut, film ini tidak hanya mengajak penonton untuk bernostalgia, tetapi juga menghubungkan mereka lebih dalam dengan perjalanan emosional para karakter.

Soundtrack yang digunakan dalam Dilan 1990 dirancang secara teliti untuk mencerminkan berbagai nuansa dan momen dalam cerita. Lagu-lagu seperti “Kemudian Ini” dan “Dulu Kita Masih Remaja” menjadi pilihan yang membawa sentuhan melankolis sekaligus romantis. Setiap liriknya memberikan konteks emosional yang mendalam, membuat hubungan Dilan dan Milea terasa lebih autentik dan relevan.

Selain itu, tata musik latar di film ini dirancang untuk mendukung berbagai adegan, baik itu momen-momen penuh tawa maupun adegan yang lebih dramatis. Ketika Dilan melontarkan kata-kata puitis kepada Milea, melodi yang lembut dan sederhana menyatu dengan dialog, menambah keintiman suasana. Sebaliknya, pada adegan-adegan dengan ketegangan, nada musik sedikit lebih tegas dan dramatis, menciptakan dinamika cerita yang seimbang.

Tidak kalah penting, penggunaan musik-musik khas Indonesia era 90-an memberikan dimensi tambahan bagi film ini. Hal ini tidak hanya membuat film terasa otentik, tetapi juga memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengenal budaya musik dari masa tersebut. Dengan demikian, soundtrack dalam Dilan 1990 tidak hanya berfungsi sebagai pendukung cerita, tetapi juga sebagai medium penghubung antara generasi masa lalu dan masa kini.

Pengaruh dan Penerimaan Publik: Film yang Menggugah dan Menyentuh Banyak Hati

Setelah dirilis pada tahun 2018, Dilan 1990 langsung mencatatkan respons luar biasa dari publik. Film ini berhasil mencetak rekor jumlah penonton hingga lebih dari 6 juta orang, menjadikannya salah satu film Indonesia terlaris sepanjang masa pada saat itu. Popularitas film tidak hanya dicapai melalui ceritanya yang sederhana namun penuh emosi, tetapi juga melalui penggambaran karakter dan dinamika hubungan yang relevan dengan kehidupan banyak orang, terutama generasi muda.

Salah satu daya tarik utama adalah akting Iqbaal Ramadhan sebagai Dilan dan Vanesha Prescilla sebagai Milea. Chemistry keduanya dipuji secara luas, dengan banyak penonton merasa bahwa mereka berhasil membawa kisah cinta remaja ke layar lebar dengan keaslian yang kuat. Iqbaal dianggap mampu memerankan sosok Dilan yang karismatik dan romantis dengan baik, sementara Vanesha mendapatkan pujian atas perannya yang natural sebagai Milea. Keberhasilan keduanya dalam mencuri perhatian penonton turut mendorong peningkatan popularitas di kalangan remaja.

Selain itu, dialog-dialog unik dalam film, seperti kutipan “Jangan rindu, berat. Biar aku saja,” menjadi viral di media sosial, memperkuat daya tarik film ini sebagai fenomena budaya pop. Pesan film yang menyentuh tentang cinta muda, persahabatan, dan tantangan masa remaja berhasil menggugah emosi berbagai kalangan.

Namun, respons positif tidak lepas dari kritik. Sebagian pihak menilai Dilan 1990 terlalu idealis dan kurang menggambarkan realitas yang kompleks. Meskipun demikian, film ini tetap mampu menciptakan nostalgia bagi penonton dewasa dan menawarkan hiburan segar bagi remaja.

Secara keseluruhan, Dilan 1990 menghadirkan pengaruh yang tidak hanya pada industri film Indonesia, tetapi juga pada generasi muda yang merasa terwakili dalam kisah cinta yang sederhana dan menggugah.

Pesan Moral: Cinta dan Persahabatan di Tengah Dinamika Remaja

Film Dilan 1990 tidak hanya menghadirkan cerita cinta yang ringan dan menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan moral yang relevan dengan kehidupan remaja. Melalui kisah Dilan dan Milea, penonton diajak memahami nilai-nilai yang penting dalam membangun hubungan, baik dengan sahabat maupun pasangan. Pesan moral yang terkandung dalam film ini memberikan refleksi yang mendalam tentang cara menjaga harmoni dalam hubungan sosial dan romantis.

Nilai-nilai Cinta yang Tulus

Cinta yang ditampilkan pada Dilan 1990 bukanlah cinta yang penuh drama atau kepalsuan, melainkan cinta yang sederhana dan tulus. Dilan menunjukkan perhatian kepada Milea melalui cara yang unik dan kreatif, namun tetap mengedepankan rasa hormat dan pengertian. Sepanjang cerita, hubungan mereka mengajarkan pentingnya komunikasi, kejujuran, dan rasa percaya. Selain itu, Dilan menggambarkan bahwa cinta tidak harus selalu sempurna, tetapi dapat tumbuh melalui usaha dan pengorbanan.

Pentingnya Persahabatan

Sebagai bagian dari kehidupan remaja, persahabatan menjadi elemen yang tak terpisahkan dalam film ini. Karakter-karakter pendukung seperti Piyan dan Wati menunjukkan bagaimana hubungan pertemanan dapat memberikan dukungan emosional di masa-masa sulit. Melalui interaksi mereka, penonton diajak untuk menghargai pentingnya solidaritas di antara teman-teman, terutama dalam menghadapi berbagai tantangan yang sering dialami oleh remaja. Pesan ini mengingatkan bahwa persahabatan sejati adalah pondasi yang kuat untuk membangun rasa percaya diri dan menghormati perbedaan.

Pembelajaran tentang Kedewasaan

Terlepas dari nuansanya yang ringan, Dilan 1990 juga menyiratkan pelajaran emosional untuk tumbuh dewasa. Dalam ketegangan dan dinamika hubungan antara karakter, terdapat momen-momen yang menekankan perlunya menjadi pribadi yang dewasa, terutama ketika menghadapi konflik. Baik Dilan maupun Milea belajar untuk mengambil keputusan berdasarkan nilai-nilai yang mereka yakini, meskipun tidak selalu mudah.

Film ini, melalui setiap adegannya, mengingatkan para penonton bahwa masa remaja adalah waktu yang penuh warna dan dinamika. Namun, cinta dan persahabatan adalah dua hal yang dapat menjadi sumber kebahagiaan dan pelajaran hidup yang berharga.

Kesimpulan: Dilan 1990 sebagai Refleksi Bertumbuhnya Generasi

Film Dilan 1990 tidak hanya menyajikan kisah cinta remaja yang romantis di balik latar cerita tahun 90-an, tetapi juga menjadi medium refleksi terhadap proses bertumbuhnya generasi muda. Cerita ini menunjukkan dengan jelas bagaimana pengalaman remaja, baik dalam konteks hubungan interpersonal maupun dinamika kehidupan, dapat membentuk karakter seseorang. Hubungan antara Dilan dan Milea menampilkan perjalanan emosi yang kompleks sekaligus mengingatkan pada fase penting kehidupan remaja—fase di mana individu perlahan memahami dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya.

Salah satu aspek utama yang mencolok adalah bagaimana karakter Dilan mencerminkan sifat pemuda yang unik, penuh spontanitas, tetapi juga memiliki kedewasaan terselubung. Sikapnya yang berbeda dari remaja pada umumnya menghidupkan sisi kreativitas dan keberanian yang sering kali menjadi ciri khas masa muda. Di sisi lain, Milea menjadi simbol gagasan tentang mencari keseimbangan emosi, mengenali nilai dalam hubungan, serta mempertimbangkan masa depan. Kombinasi kedua karakter ini menggambarkan perjuangan batin yang dialami remaja saat menghadapi berbagai tantangan.

Dari sudut pandang sosial, film ini juga merefleksikan bagaimana generasi berkembang melalui interaksi dengan teman sebaya, lingkungan sekolah, serta tantangan seperti tekanan sosial. Era 90-an digambarkan dengan penuh nostalgia melalui elemen budaya, teknologi, dan keterbatasan yang mengundang penonton untuk membandingkan dengan realitas generasi saat ini. Selain itu, persahabatan yang kuat dan komunitas kecil dalam film menjadi pengingat tentang pentingnya membangun hubungan yang bermakna, terutama saat transisi menuju masa dewasa.

Dengan nuansa puitis pada dialog dan tindakan para tokoh, Dilan 1990 berhasil mengangkat isu-isu coming-of-age dengan cara yang menyentuh. Gaya berceritanya yang ringan tetapi berkesan memastikan bahwa setiap elemen naratif berfungsi untuk merangkai gambaran kehidupan remaja yang penuh warna. Sementara perjalanan romantis mereka menjadi fokus cerita, pesan yang lebih universal tentang pencarian identitas, tanggung jawab, dan pertumbuhan pribadi tetap terasa relevan bagi generasi mana pun.

Relevansi di Masa Kini: Mengapa Dilan 1990 Masih Populer Hingga Sekarang

Film Dilan 1990 terus mempertahankan popularitasnya bahkan setelah bertahun-tahun dirilis. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yang membuat kisah romantis antara Dilan dan Milea tetap relevan dan diminati oleh berbagai generasi penonton. Salah satu alasan utamanya adalah tema nostalgia. Cerita ini mengambil latar belakang tahun 1990-an, sebuah era yang menghadirkan nuansa sederhana namun penuh kenangan bagi banyak orang. Sentuhan estetika vintage, mulai dari cara berpakaian hingga suasana kota Bandung pada masa itu, membawa daya tarik tersendiri.

Selain itu, kisah cinta Dilan dan Milea menggambarkan hubungan yang ringan namun penuh makna. Dialog-dialog Dilan yang puitis, unik, dan sering kali jenaka telah menjadi ciri khas yang diingat dan dikutip oleh penggemar hingga saat ini. Tidak hanya itu, pola interaksi mereka yang cenderung realistis, jauh dari drama berlebihan, memudahkan penonton untuk ikut merasa terhubung dengan tokoh-tokoh tersebut.

Film ini juga relevan karena pesan tentang cinta yang tulus dan perjuangan menghadapi tantangan remaja bersifat universal. Nilai-nilai tersebut tetap berlaku dan bisa dirasakan oleh generasi muda zaman sekarang. Banyak dari mereka yang melihat film ini sebagai refleksi dari perasaan yang mungkin mereka alami saat menjalani masa-masa remaja.

Adapun kehadiran budaya digital telah turut memperluas keabadian popularitas Dilan 1990. Media sosial menjadi platform untuk menghidupkan kembali kutipan, adegan, ataupun sekadar berbagi ulasan. Bahkan, komunitas penggemar film turut andil untuk memastikan Dilan 1990 tidak tenggelam oleh waktu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *